Sabtu, 24 November 2012

Pangeran Antasari (Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin)







Pangeran Antasari telah dianugerahi gelar sebagai Pahlawan Nasional dan Kemerdekaan oleh pemerintah Republik Indonesia berdasarkan SK No. 06/TK/1968 di Jakarta, tertanggal 23 Maret 1968.

Pangeran Antasari adalah salah satu bangsawan Kerajaan Banjar yang memimpin perlawanan terhadap penjajahan Belanda di Tanah Banjar (Kalimantan Selatan). Wilayah Kerajaan Banjar pada saat itu tidak hanya meliputi Kalimantan Selatan sekarang, tetapi juga membawahi Pamukan, Pasir, Kutai, Berau, Karasikan (Kalimantan Timur), Sabangau, Mandawai, Sampit, Kuala Pambuang, Kota Waringin, Muara Teweh, Puruk Cahu, Kapuas (Kalimantan Tengah), Sukadana, Lawai, dan Sambas (Kalimantan Barat). Sehingga Pangeran Antasari tidak hanya dianggap sebagai pemimpin Suku Banjar, beliau juga merupakan pemimpin Suku Ngaju, Maanyan, Siang, Sihong, Kutai, Pasir, Murung, Bakumpai dan beberapa suku lainya yang berdiam di kawasan dan pedalaman atau sepanjang Sungai Barito. Perlawanan terhadap Belanda ini dikenal sebagai Perang Banjar (De Bandjermasinche Krijg) yang terjadi tahun 1859-1905.

Pangeran Antasari dilahirkan di Kayu Tangi, Martapura tahun 1787, beliau adalah putra dari Pangeran Mas’ud dan Gusti Khadijah. Sebagai bangsawan, Pangeran Antasari tinggal di Kampung Antasan Senor, Martapura. Namun kehidupan beliau sangat sederhana, beliau hanya memiliki tanah lungguh di daerah Mangkauk sampai daerah wilayah dekat Rantau yang berpenghasilan hanya sekitar 400 Golden pertahun. Penghasilan ini tidak mencukupi kebutuhan hidup keluarganya sebagai bangsawan pada masa itu.

Salah satu semboyan P. Antasari yang sangat terkenal adalah haram manyarah waja sampai kaputing (haram menyerah, baja sampai keujung). Maksudnya dalam mengusir penjajah Belanda tidak akan pernah meminta ampun atau menyerah, perjuangan akan diteruskan sampai tenaga yang penghabisan. Ini sesuai dengan isi surat Pangeran Antasari yang dikirimkan dan menolak tawaran dari Letnan Kolonel Verspyck di Banjarmasin tertanggal 20 Juli 1861, agar ia mengakui kekuasaan dan menyerah kepada Belanda.
“……dengan tegas kami terangkan kepada tuan: Kami tidak setuju terhadap usul minta ampun dan kami berjuang terus menuntut hak pusaka (kemerdekaan)……”

Dalam peperangan, belanda pernah menawarkan hadiah kepada siapa pun yang mampu menangkap dan membunuh Pangeran Antasari dengan imbalan 10.000 gulden. Namun sampai perang selesai tidak seorangpun mau menerima tawaran ini.
Pangeran Antasari sebagai diangkat dan dikukuhkan rakyat sebagai sebagai Kepala Agama Tertinggi dan diberi gelar Panambahan Amiruddin Khalifatul Mu’minin pada tanggal 13 Ramadhan 1278 H/14 Maret 1862, oleh sekalian pemuka suku di Kalimantan seperti Kiai Dipati Djaja Radja, Raden Mas Warga Nata Widjaja, Temenggung Mangku Sari, kepala suku di seluruh Muara Teweh, Kapuas dan Kahayan, sekalian para haji, alim ulama dan pembesar Banjarmasin serta Martapura.

Setelah berjuang di tengah-tengah rakyat, Pangeran Antasari kemudian wafat di tengah-tengah pasukannya tanpa pernah menyerah, tertangkap, apalagi tertipu oleh bujuk rayu Belanda pada tanggal 11 Oktober 1862 di Tanah Kampung Bayan Begok Sampirang, Murung Raya, dalam usia lebih kurang 75 tahun. Menjelang wafatnya, beliau terkena sakit paru-paru dan cacar yang dideritanya setelah terjadinya pertempuran di bawah kaki Bukit Bagantung Tundakan.
Setelah terkubur selama lebih kurang 91 tahun di daerah hulu sungai Barito, atas keinginan rakyat Banjar dan persetujuan keluarga, pada tanggal 11 November 1958 dilakukan pengangkatan kerangka Pangeran Antasari. Yang masih utuh adalah tulang tengkorak, tempurung lutut dan beberapa helai rambut. Kemudian kerangka ini dimakamkan kembali Komplek Pemakaman Pahlawan Perang Banjar, Kelurahan Surgi Mufti, Banjarmasin.

Ada 7 pesan yang ditinggalkan sebelum Pangeran Antasari wafat, yakni :
1. haram manyarah waja sampai kaputing,
2. lamun tanah banyu kita kahada handak dilincai urang jangan bacakut papadaan,
3. lamun handak tulak manyarang Walanda baikat hati di tali sindat,
4. jangan sampai mati parahatan bukah matilah kita di jalan Allah,
5. siapa nang babaik-baik lawan Walanda tujuh katurunan kahada aku sapa,
6. amun kita sudah sapakat handak mahinyik Walanda janganlah Walanda dibari muha, dan
7. haram dijamah Walanda, haram diriku dipanjara, haram nagriku dijajah.




Makam Pangeran Antasari ada di tengah pemakaman umum dekat masjid Jami’, masjid tertua kedua di Banjarmasin. Di atas makamnya dibuat rumah yang tidak terlalu besar, di dalam rumah itu ada 5 makam. Makam Pangeran Antasari ada di sebelah kiri pintu masuk, diberi pagar. Di sebelah kanan pintu masuk adalah makam panglima Batur, pejuang kelahiran Buntok Baru, Barito Utara, tahun 1852. Ia adalah seorang panglima suku Dayak yang telah masuk Islam. Di perang Barito sebagai kelanjutan perang Banjar, panglima Batur merupakan panglima setia masa sultan Muhammad Seman. Ia meninggal di Banjarmasin 5 Oktober 1905 dalam usia 53 tahun. Makam berikutnya adalah makam Hasanuddin HM (Hasanuddin bin Haji Madjedi), pahlawan Ampera di Kalsel. Ia mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin yang meninggal tahun 1966. Makam berikutnya adalah makam Ratu Antasari, istri Pangeran Antasari. Satu lagi adalah makam Ratu Zulaiha, puteri Sultan Muhammad Seman.

Pangeran Antasari bin Pangeran Mas’ud bin Sultan Amir bin Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah, lahir tahun 1809, ibunya bernama Gusti Hadijah binti Sultan Sulaiman. Ia adalah keluarga Kesultanan Banjarmasin, tetapi hidup dan dibesarkan di luar lingkungan istana, yakni di Antasan Senor, Martapura. Kericuhan-kericuhan yang terjadi di kalangan penguasa kesultanan, menjadikan cicit dari Sultan Aminullah ini tersisih, walaupun ia sebenarnya pewaris pula atas tahta Kesultanan Banjar.
Ketika Sultan Adam (1825-1857) meninggal dunia, Belanda mengangkat cucunya yaitu Pangeran Tamjidillah menjadi Sultan. Putra Sultan Adam yaitu Pangeran Abdulrachman, ayah Tamjidillah, telah meninggal lebih dahulu pada 1852. Pengangkatan ini menimbulkan masalah, karena ibu Tamjidillah adalah orang Cina. Ditambah kesenangannya pada minuman keras dan bermabuk-mabukan. Para bangsawan, ulama, dan rakyat tidak menyukai terhadap pengangkatan Pangeran Tamjidillah sebagai Sultan. Yang lebih disukai adalah putra Abdulrachman yang lain yaitu Pangeran Hidayatullah. Dia selain putra dari ibu bangsawan, juga berperangai baik. Tapi Tamjidillah sudah didukung dan ditetapkan Belanda sebagai sultan dan Hidayatullah dijadikan mangkubumi (patih).


Harapan rakyat Banjar adalah Hidayatullah yang menjadi sultan, yang diperkuat pula dengan Surat Wasiat Sultan Adam Alwasyiqubillah. Isi Surat Wasiat itu sebagai berikut: Sultan Adam memberi kepada Pangeran Hidayat gelar Sultan Hidayatullah Khalilullah. Mengangkat menjadi penguasa agama serta mewariskan semua tanah kesultanan, semua alat senjata kesultanan, alat pusaka dan padang-padang perburuan. Apabila Sultan Adam wafat, maka penggantinya ialah Pangeran Hidayat, dan hendaknya memerintah rakyat dengan penuh keadilan dan mengikuti perintah agama. Memerintahkan kepada seluruh rakyat Kesultanan Banjar supaya mentaati hal ini dan jika perlu mempertahankan dengan kekerasan. Memerintahkan kepada semua pangeran, menteri, orang besar kesultanan, ulama dan tetua kampung supaya mematuhi ketentuan ini, apabila dilanggar Sultan Adam menjatuhkan kutuknya.
Karena keadaan itu muncullah gerakan-gerakan perlawanan rakyat. Di berbagai tempat, di kampung-kampung, mereka mempengaruhi rakyat dan di sana-sini mengganggu ketenteraman. Keresahan rakyat tampak jelas dengan timbulnya perlawanan di daerah pedalaman, yaitu: Di Banua Lima (Negara, Alabio, Sungai Banar, Amuntai dan Kalua) dipimpin oleh Tumenggung Jalil. Di Muning dibawah pimpinan Aling yang telah menobatkan dirinya menjadi sultan dengan nama Penembahan Muda. Anaknya yang bernama Sambang diangkat dan bergelar Sultan Kuning. Anak perempuannya Saranti diberi gelar Puteri Junjung Buih. Nama kampungnya diganti menjadi Tambai Makkah. Di daerah Batang Hamandit, Gunung Madang, dipimpin Tumenggung Antaluddin. Di Tanah Laut dan Hulu Sungai dipimpin oleh Demang Lehman. Di Kapuas Kahayan dibawah pimpinan Tumenggung Surapati.


Pangeran Hidayatullah dalam kedudukannya sebagai mangkubumi mengutus 3 orang untuk menyelidiki gerakan-gerakan rakyat yang sedang bergolak. Salah seorang dari utusan itu adalah pamannya sendiri, yaitu Pangeran Antasari. Maka terbukalah kesempatan bagi Pangeran Antasari untuk menghubungi pemimpin-pemimpin gerakan rakyat yang siap mengadakan perlawanan, bahkan ia berhasil memperoleh kepercayaan rakyat dan dipilih sebagai pemimpin perlawanan. Cita-cita mereka memang sesuai dengan sikap dan pendirian Antasari.
Oleh karena itu ia dan keluarganya diam-diam meninggalkan kediamannya di Antasan Senor Martapura dan menyatukan diri dengan kaum perlawanan di pedalaman. Puteranya yang bernama Gusti Penembahan Muhammad Said, dikawinkan dengan Saranti, puteri Penembahan Aling, tokoh yang berpengaruh di kalangan mereka.
Pangeran Antasari berhasil mempersatukan gerakan rakyat yang dipimpin oleh Penembahan Aling di Muning dengan gerakan rakyat yang dipimpin oleh Tumenggung Jalil di Benua Lima. Wilayah perlawanan bertambah luas, meliputi Tanah Dusun Atas, Tabanio dan Kuala Kapuas, serta Tanah Bumbu. Semuanya menjadi satu front di bawah pimpinan Pangeran Antasari untuk menentang Belanda dan kekuasaannya yang menggunakan Sultan Tamjidillah.
Pengaruh Pangeran Antasari menjadi makin luas, juga di kalangan alim ulama Banjar yang sebagian besar bersedia ikut menempuh jalan kekerasan. Pada permulaannya ia berhasil menghimpun sebanyak 6.000 orang lasykar. Serangan pertama dilakukan pada tanggal 28 April 1859. Dengan serangan itu maka meletuslah Perang Banjar. Pagi-pagi buta 300 orang lasykar yang dipimpin langsung oleh Pangeran Antasari menyerang tambang batu bara dan benteng Belanda di Pengaron. Pertempuran berlangsung hingga pukul 14.00 siang. Baik pihak Pangeran Antasari mapun pihak Belanda berjatuhan korban.
Pengaron dikepung rakyat lasykar Antasari. Komandan Beeckman sangat khawatir karena persediaan makanan sudah menipis. Ia segera mengirim kurir, tetapi kurir itu dapat dibunuh oleh lasykar. Keadaan di luar tambang dan benteng Belanda di Pengaron dapat dikuasai lasykar Pangeran Antasari. Dua puluh orang bersenjata parang menyelinap ke dalam pos dan benteng tambang batu bara Oranje Nassau Pengaron, tetapi diketahui musuh, dan semuanya gugur terbunuh. Dokter Belanda di dalam lokasi itu diamuk dan dibunuh oleh orang hukuman. Pangeran Antasari sebagai pimpinan lasykar perlawanan mengirim surat kepada Beeckman agar ia menyerah.


Dalam keadaan semacam ini pemerintah Belanda menganggap berbahaya terhadap pangeran Antasari sehingga dianggap pemberontak yang dikenai premie atau harga kepala 10.000 gulden untuk menangkapnya hidup atau mati. Demikian pula terhadap Pangeran Hidayatullah yang kemudian bergabung dengan Pangeran Antasari. Hal ini dilakukan Belanda setelah dihapuskannya Kerajaan Banjar oleh Belanda pada tanggal 11 Juni 1860.
Di dalam bulan suci Ramadhan 1278 H (14 Maret 1862, yaitu setelah 11 hari Pangeran Hidayatullah II diasingkan ke Cianjur) para alim ulama dan pemimpin rakyat di Barito, Sihong, Teweh serta kepala-kepala suku Dayak Kapuas Kahayan berkumpul di Dusun Hulu untuk menobatkan Pangeran Antasari menjadi Penembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin, pemimpin tertinggi agama. Dengan demikian, dalam pengertian rakyat, kedaulatan daerah Banjar dipegang oleh Pangeran Antasari. Kekuasaan dan kedaulatan dilaksanakan sesuai dengan keadaan perang yang masih berkobar.
Belanda masih berusaha berdamai dengan Pangeran Antasari dan bersedia memberi pengampunan. Pangeran Antasari menolak ajakan Belanda dengan mengirim surat kepada gezaghebber (Kepala Daerah/penguasa) di Marabahan (Bakumpai). Isinya ialah penolakan pengampunan yang diajukan Belanda kepada Pangeran Antasari. Ia tidak percaya kepada janji-janji yang diberikan Belanda dan menganggapnya sebagai tipu muslihat belaka. Pangeran Antasari sebagai Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin hanya memberi satu jaminan untuk perdamaian, yaitu diserahkannya Kesultanan Banjarmasin, sedangkan Belanda hanya diizinkan untuk menarik pajak. Kalau syarat tersebut tidak dipenuhi, maka Pangeran Antasari memilih jalan meneruskan peperangan.
Pada tahun 1862 Pangeran Antasari merencanakan suatu serangan besar-besaran terhadap Belanda, tetapi secara mendadak, wabah cacar melanda daerah Kalimanatan Selatan, Pangeran Antasari terserang juga. Dalam keadaan sakit parah ia diangkut ke pegunungan Dusun Hulu. Akhirnya meninggal di kampung Sampirang, Bayan Pegog, Hulu Teweh, pada tanggal 11 Oktober 1862. Kemudian makamnya dipindah pada 11 November 1958 ke Komplek Makam Pangeran Antasari, Banjarmasin.












1 komentar: